Beranda » Naskah Khutbah » Dari Pasar ke Surga Rahasia Abdurrahman bin Auf : Inspirasi untuk Generasi Z

Dari Pasar ke Surga Rahasia Abdurrahman bin Auf : Inspirasi untuk Generasi Z

Abdurrahman bin Auf adalah seorang sahabat Nabi ﷺ yang bernama asli Abd Amr bin Auf bin Abdi Auf dari suku Quraisy. Sebelum masuk Islam, ia dikenal sebagai pedagang cerdas dan jujur di Mekah. Keberaniannya menerima ajaran Islam sejak awal membuatnya termasuk dalam “As-Sabiqun al-Awwalun”—golongan pertama yang beriman (Ibnu Sa‘ad, abaqāt al-Kubrā, 3/76).

Setelah masuk Islam, ia ikut berhijrah ke Habasyah dan Madinah, meninggalkan sebagian besar harta demi mempertahankan iman. Di Madinah, Rasulullah ﷺ mempersaudarakannya dengan Sa‘ad bin Rabi‘ al-Anshari. Sa‘ad bahkan menawarkan setengah hartanya, tetapi Abdurrahman menjawab, “Tunjukkan saja kepadaku di mana pasar.” Sejak itulah ia memulai bisnis dari nol hingga kembali sukses (HR. al-Bukhari, no. 2048).

Dalam perjuangan bersama Rasulullah ﷺ, Abdurrahman bin Auf selalu hadir di medan jihad, termasuk di Perang Badar dan Perang Uhud. Dalam Badar, ia menjadi salah satu dari sahabat yang dijanjikan surga (al-Tirmidzi, Sunan, no. 3757). Luka-luka akibat peperangan menjadi saksi pengorbanannya.

Kekayaannya tidak menjadikannya lalai dari dakwah. Sebaliknya, ia menjadikan hartanya sebagai senjata. Dalam Perang Tabuk, ia menyumbangkan 200 uqiyah emas untuk membiayai pasukan Islam (HR. al-Bukhari, no. 4210). Rasulullah ﷺ pun mendoakan keberkahan hartanya.

Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai sosok dermawan untuk kemanusiaan. Ia sering memberi makan fakir miskin, membebaskan budak, dan membantu janda-janda sahabat. Ibn Hajar mencatat bahwa ia pernah menyumbangkan 500 ekor kuda dan 1.500 ekor unta untuk perjuangan Islam (al-Iṣābah, 4/287).

Meskipun sering berbagi, rezekinya tidak pernah habis. Saat perang Tabuk usai, suasana Madinah dipenuhi sisa-sisa yang ditinggalkan. Ladang tak terurus, gudang yang ditinggalkan pemiliknya, dan buah-buahan yang tak sempat dipanen. Diantaranya banyak kurma yang tidak layak jual lagi karena sudah layu, bercampur debu, tampak rusak dan kurang menarik di mata pedagang biasa. Harga jatuh, dan pemilik kurma menanggung malu karena gagal panen akibat kondisi perang.

Abdurrahman bin Auf  yang sejak masuk Islam dikenal sebagai saudagar yang jujur dan dermawan  melihat peluang moral, bukan keuntungan. Ia berpikir: “Jika aku ingin mengecilkan kecintaan pada harta dan mendekatkan diri pada kesederhanaan, lebih baik aku keluarkan hartaku sekarang untuk menolong mereka.” Dengan niat ikhlas, ia membeli seluruh tumpukan kurma yang tersisa tersebut, membayar kepada pemiliknya agar mereka tidak menderita akibat panen gagal. Kemudian Abdurrahman bin Auf sengaja membeli kurma-kurma tersebut dengan harga yang relatif tinggi agar harta sendiri berkurang.

Warga Madinah terheran-heran melihat tindakan itu, bagaimana mungkin seorang pedagang kaya membeli barang tak bernilai, bahkan dianggap “sampah” pasar? Mereka menganggapnya sia-sia. Abdurrahman sendiri tampak tenang. Dalam pemikiran Abdurrahman bin Auf ,  harta itu kini punya fungsi kemanusiaan, mengangkat derita para petani, mengurangi malu tetangga, dan menutup luka sosial pasca-perang.

Beberapa hari kemudian kabar mengejutkan datang. Dari jauh tiba utusan dari negeri Yaman. Konon negeri itu sedang dilanda wabah atau masalah kesehatan di mana pakar setempat menemukan bahwa kurma tertentu, termasuk kurma yang telah difermentasi atau “yang tampak rusak” dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat atau penawar. Utusan itu mencari penyuplai dan ketika mendengar ada kurma dalam jumlah besar di Madinah, mereka segera menghubungi rumah Abdurrahman.

Utusan Yaman tak hanya membeli Sebagian,  mereka membeli semuanya. Harga yang dibayar jauh di atas perkiraan. beberapa kisah menyebut sampai 8–10 kali lipat harga pasar biasa. Barang yang semula dianggap tidak bernilai berubah menjadi sangat berharga karena konteks dan kebutuhan lain yang tak terduga. Abdurrahman, yang tadinya ingin mengurangi harta untuk mendekatkan diri pada Allah, melihat hartanya justru bertambah berkali-kali. Ia tersenyum, menyadari bahwa sedekah dan kedermawanan membuka pintu berkah yang tak terduga.

Menjelang wafatnya pada tahun 32 H, ia masih meninggalkan kekayaan luar biasa. Harta warisannya mencapai sekitar 84 ribu dinar emas. Bahkan, para ahli waris sampai menggunakan kapak untuk membagi-bagikan emas saking banyaknya (al-Dhahabi, Siyar A‘lam al-Nubalā’, 1/90). Ia juga berwasiat membagi sebagian hartanya untuk istri-istri Nabi ﷺ, hingga setiap ummul mu’minin menerima 80 ribu dirham.

Kisah hidup Abdurrahman bin Auf adalah inspirasi nyata bagi generasi sekarang, khususnya mahasiswa Generasi Z. Ia membuktikan bahwa kesuksesan finansial dan kesalehan spiritual bisa berjalan beriringan. Ia tidak pernah menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidup, melainkan sebagai sarana untuk menolong sesama.

Di era digital ini, mahasiswa bisa mencontohnya dengan memanfaatkan kreativitas, teknologi, dan jejaring sosial untuk membangun usaha yang halal. Namun, jangan lupa prinsip Abdurrahman bin Auf: semakin sukses, semakin banyak memberi. Bayangkan jika generasi muda Indonesia menggerakkan ekonomi kreatif sekaligus menjadi donatur tetap untuk dakwah, masjid, dan kegiatan sosial.

Dari Mekah hingga Madinah, dari pasar hingga medan perang, Abdurrahman bin Auf telah meninggalkan warisan teladan yang tak lekang oleh waktu. Kisahnya adalah pengingat bahwa harta bukanlah untuk disimpan sendiri, melainkan untuk memperjuangkan agama, membantu sesama, dan menebar manfaat. Generasi Z bisa belajar bahwa keberhasilan sejati bukanlah sekadar menjadi kaya, tetapi bagaimana kekayaan itu bisa menjadi jalan menuju surga.

Penulis :

Toto Heriyanto, S.Pd.I., M.Ag.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas YARSI-Jakarta.

 

Referensi:

  • Ibn Sa‘ad, abaqāt al-Kubrā, Juz 3.
  • al-Bukhari, Ṣaī al-Bukhārī, Kitāb al-Jihād wa al-Siyar.
  • al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, Kitāb al-Manāqib.
  • Ibn Hajar al-‘Asqalānī, al-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaābah.
  • al-Dhahabi, Siyar A‘lam al-Nubalā’.

Tuliskan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Keranjang belanja

Tidak ada produk di keranjang.

Kembali ke toko

Nun Media Berkah

Selamat datang di Toko Kami. Kami siap membantu semua kebutuhan Anda

Selamat datang, ada yang bisa Saya bantu