Beranda » Naskah Khutbah » Mengendalikan Emosi untuk Keharmonisan Hidup Lebih Baik

Mengendalikan Emosi untuk Keharmonisan Hidup Lebih Baik

Dalam menjalani kehidupan, manusia kerap mengalami berbagai bentuk kenikmatan yang dapat menimbulkan perasaan bahagia. Umumnya, hal tersebut disambut dengan kegembiraan, kebahagiaan, serta ekspresi suka cita. Namun, tidak jarang seseorang menghadapi situasi yang kurang menyenangkan. Cara individu dalam merespons keadaan yang tidak menguntungkan pun bervariasi. Beberapa orang mampu menghadapinya dengan kesabaran dan menyelesaikannya secara bertahap, sementara yang lain cenderung bereaksi secara emosional, bahkan hingga mengalami ledakan amarah yang sulit dikendalikan.

Marah dalam bahasa Arab yaitu Ghadhab ( غضب ). Kata Ghadhab berasal dari akar kata ghadhiba-yaghdhabu-ghadhaban (  غضب –  يغضب – غضبا) berarti marah. Marah berarti gusar, jengkel, muak dan sangat tidak senang karena diri diperlakukan tidak sepantasnya.

Abu Hurairah r.a. dalam sebuah hadits shahih Bukhari beliau meriwayatkan bahwa

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ

 “bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw; “Berilah aku wasiat?” beliau bersabda: “Janganlah kamu marah.” Laki-laki itu mengulangi kata-katanya, beliau tetap bersabda: “Janganlah kamu marah.” (HR. Bukhari)

 Imam an-Nawawi mengatakan bahwa marah merupakan tekanan nafsu dari hati yang mengalirkan darah pada bagian wajah yang berakibat timbulnya kebencian pada diri seseorang. Imam Ghazali menerangkan dalam kitabnya Ihya ulumudin bahwa marah bagaikan nyala api yang menyala berkobar-kobar, menyerang bergerak dan bergejolak dalam hati manusia.”

Imam al-Qurthubi berkata bahwa marah dapat juga diartikan dengan as-Syiddah berarti kekuatan, keperkasaan, ataupun kekerasan. atau seseorang yang yang mempunyai perangai keras. Dan juga bisa diartikan ular jahat yang mematikan karena keperkasaannya.

Marah adalah sifat tercela yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu sifat ini dilarang oleh Islam. Sudah seharusnyalah kita berusaha mengendalikan sifat ini. Marah akan menutupi pikiran sehat seseorang. Orang yang marah tidak akan bisa mempertimbangkan baik dan buruk. Ia akan bertindak sekehendak nafsu amarahnya. Ia bertindak berdasarkan emosi saja. Dengan demikian akan mudah dipengaruhi setan. Sebagai orang beriman dan bertakwa kita harus bisa mengendalikan diri dari amarah, karena mengendalikan diri dari marah adalah salah satu ciri orang yang bertakwa. Hal ini didasarkan pada firman Allah swt. pada surat Ali Imran/3 : 134 sebagai berikut:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

 Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar mudarris tafsir Universitas Islam Madinah menjelaskan bahwa وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ (dan orang-orang yang menahan amarahnya) Yakni yang menyembunyikan kemarahan mereka dan menahannya dalam hati mereka, sehingga tidak berbuat zalim kepada seorangpun sebab kemarahan mereka.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam kitab tafsirnya taisirul karimirrohman fi tafsiril kalamil manan mengatakan bahwa وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ (dan orang-orang yang menahan amarahnya) yaitu, bila terjadi dari orang lain tindakan yang menyakitkan terhadapnya yang menimbulkan kemarahan yaitu hati yang penuh dengan kedongkalan yang akan menimbulkan balas dendam dengan perkataan maupun perbuatan. Mereka itu tidaklah bertindak menurut tabiat kemanusiaanya, akan tetapi mereka menahan apa yang ada di dalam hati mereka di sebabkan kemarahan, dan menghadapi orang yang berbuat jelek kepadanya itu dengan kesabaran.

Kemarahan merupakan suatu gejolak kehidupan. Jika seorang naik darah atau berbuat kekeliruan, pekerjaan dan kegiatan mungkin terganggu, suasana kerja menjadi terasa panas dan menyebalkan. Amarah senantiasa merusak tatanan kehidupan manusia Sungguh sangat aneh, penyakit kanker telah menyita perhatian dunia dan menghabiskan banyak harta. Sementara marah yang menyebabkan terjadinya pembekuan darah dan kontraksi yang justru lebih sering mengantarkan kepada kematian. Ternyata marah itu lebih dasyat dari pada kanker.

Orang marah akan jauh dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kenapa doa-doa yang dipanjatkan di sepertiga malam dinamakan munajat? Munajat artinya berbisik-bisik. Berbisik-bisik lebih identik dengan sebuah kedekatan yang intens. Lebih intens dari orang berbicara biasa. Berbeda dengan orang marah. Orang yang sedang marah, walaupun yang dimarahi hanya berjarak satu meter, namun nada bicaranya tinggi, matanya melotot seperti orang yang sedang berbicara dengan jarak 100 meter. Kenapa seperti itu? Sebab walaupun dekat secara raga, namun jauh secara ruh. Marah bisa memecah jarak itu menjadi terbentang jauh.

Rasulullah saw. bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ

“Orang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Namun orang yang kuat adalah yang bisa mengontrol pribadinya ketika marah.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, seseorang perlu terlebih dahulu mengenali hal-hal yang dapat menyebabkan kemarahan. Secara garis besar sebab yang menimbulkan marah itu terdiri dari dua faktor, yaitu:

Faktor Fisik

Manusia terdiri dari unsur jasmani dan unsur rohani. Keduanya ini harus juga mendapat perhatian yang seimbang, disamping memenuhi kebutuhan unsur rohani, dalam hal ini faktor fisik juga harus mendapat porsi yang serius untuk dapat mengenali penyebab kemarahan pada fisik yaitu antara lain:

  1. Kelelahan yang berlebihan, misalnya orang yang terlalu lelah karena kerja keras, akan lebih mudah marah dan mudah tersinggung
  2. Zat-zat tertentu yang dapat menyebabkan marah. Misalnya jika otak kurang mendapat zat asam, maka orang tersebut akan mudah marah
  3. Hormon kelamin pun dapat mempengaruhi kemarahan seseorang. Hal ini dapat dilihat dan dibuktikan sendiri pada sebagian wanita yang sedang menstruasi, rasa marah merupakan ciri khasnya yang utama

 Faktor Psikis

Faktor psikis yang menimbulkan marah adalah erat kaitannya dengan kepribadian seseorang. terutama sekali menyangkut apa yang disebut “Self Concept yang salah” yaitu anggapan seseorang terhadap dirinya yang salah. Self concept yang salah manghasilkan pribadi yang tidak seimbang. Karena seseorang akan menilai dirinya sangat berlainan sekali dengan kenyataan yang ada. Berikut ini merupakan beberapa sebab yang memunculkan marah:

a. Ujub (Rasa Bangga Terhadap Diri Sendiri)

Rasa bangga terhadap pendapat, status sosial, nasab (keturunan), dan harta merupakan salah satu pangkal permusuhan yang dapat membangkitkan kemarahan jika tidak diikat ataupun diarahkan dengan nilai-nilai islam. Ujub merupakan teman dekat dari kesombongan. Sedangkan kesombongan merupakan salah satu dosa besar. Sabda Nabi Muhammad SAW:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya laki-laki menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah itu bagus menyukai yang bagus, kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

b. Senda Gurau / Bercanda

Sering kita mendapati orang-orang bersenda gurau/ bercanda terkadang melampaui batasan syar’i, baik dengan perkataan yang tidak berfaidah ataupun melakukan hal-hal yang bisa menyakiti hati orang lain. Hal ini bias menimbulkan dosa besar, apalagi setelah itu si pelaku berdalih bahwa apa yang dia perbuat hanyalah senda gurau/ bercanda. Karena itulah, Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لَاعِبًا وَلَا جَادًّا

Dari Abdullah bin As Saib bin Yazid dari Bapaknya dari Kakeknya Bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik untuk bercanda atau sungguhan.” (HR. Abu Daud – 4167)

c. Ucapan Yang Tidak Sopan dan Keji

Sebagian orang sangat mudah melontarkan kata-kata yang tidak sopan, kotor, kata-kata yang buruk, dan bisa jadi menyakitkan orang lain yang mendengarnya. Ucapan kotor itu seolah-olah sudah menjadi tabiat dan karakternya, sehingga mudah terucap dan sulit dihilangkan. Sangat mudah baginya untuk mengeluarkan cacian dan makian kepada orang lain. Selain itu, ucapan kotor tersebut semakin parah ketika dia berselisih dengan kawannya, atau terlibat dalam perdebatan dan pertengkaran. Allah berfirman dalam surat An-Nisa/4 ayat 148 sebagai berikut,

 لَا يُحِبُّ اللّٰهُ الْجَهْرَ بِالسُّوْۤءِ مِنَ الْقَوْلِ اِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ سَمِيْعًا عَلِيْمًا

“Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi.  Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Rasulullah saw, bersabda:

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ انْبَسَطَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَلَّمَهُ فَلَمَّا خَرَجَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمَّا اسْتَأْذَنَ قُلْتَ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ فَلَمَّا دَخَلَ انْبَسَطْتَ إِلَيْهِ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَاحِشَ الْمُتَفَحِّشَ

Dari Abu Salamah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha ia berkata, “Seorang laki-laki minta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ia adalah sejelek-jelek saudara dalam kaumnya.” Maka ketika laki-laki itu masuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara dengannya dan menampakkan wajah keceriaan. Ketika laki-laki itu telah keluar, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau izinkan ia masuk, padahal sebelum itu engkau mengatakan ‘Ia adalah sejelek-jelek saudara dalam kaumnya’? Dan ketika ia telah masuk wajahmu ceria?” beliau lalu menjawab: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang keji dan ucapan keji.”

حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ عَائِشَةَ فِي هَذِهِ الْقِصَّةِ قَالَتْ فَقَالَ تَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ مِنْ شِرَارِ النَّاسِ الَّذِينَ يُكْرَمُونَ اتِّقَاءَ أَلْسِنَتِهِمْ

Telah menceritakan kepada kami Abbas Al Anbari berkata, telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir berkata, telah menceritakan kepada kami Syarik dari Al A’masy dari Mujahid dari ‘Aisyah tentang kisah ini, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang diberi kemuliaan agar mereka (manusia) bisa terhindar dari keburukkan lisannya.” (HR. Abu Daud – 4160) :

 

Menurut Al-Imam Al-Ghazali, sebagaimana dikutip oleh Syekh Jamaluddin Al-Qasimi, terdapat dua metode utama untuk meredam emosi saat amarah memuncak.  Pertama, dengan ilmu, yaitu dengan memahami hakikat dan dampak negatif dari kemarahan, serta menyadari pentingnya mengendalikan emosi demi kebaikan diri sendiri dan orang lain. Kedua, dengan amal, yaitu dengan menerapkan tindakan nyata dalam mengelola amarah, seperti berlatih kesabaran, berdiam diri, mengubah posisi tubuh, atau melakukan aktivitas yang dapat meredakan emosi. Dengan menerapkan kedua metode ini, seseorang dapat lebih bijak dalam menghadapi situasi yang memicu kemarahan, sehingga tercipta keseimbangan emosional yang lebih baik.

a. Dengan Ilmu

Dari sisi ilmu, al-Imam al-Ghazali menjelaskan dalam kitab Ihya Ulumuddin ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

الْأَوَّلُ: أَنْ يَتَفَكَّرَ فِيمَا وَرَدَ فِي فَضْلِ كَظْمِ الْغَيْظِ وَالْعَفْوِ وَالْحِلْمِ وَالِاحْتِمَالِ، فَيَرْغَبَ فِي ثَوَابِهِ، وَتَمْنَعُهُ الرَّغْبَةُ فِي الْأَجْرِ عَنِ الِانْتِقَامِ، وَيَنْطَفِئُ عَنْهُ غَيْظُهُ.

“Pertama berpikir tentang ayat atau hadits Nabi tentang keutamaan menahan amarah, memaafkan, bersikap ramah dan menahan diri, sehingga dirinya terdorong untuk menggapai pahalanya, dan mencegah dirinya untuk membalas, serta dapat memadamkan amarahnya.”

الثَّانِي: أَنْ يُخَوِّفَ نَفْسَهُ بِعِقَابِ اللَّهِ لَوْ أَمْضَى غَضَبَهُ، وَهَلْ يَأْمَنُ مِنْ غَضَبِ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهُوَ أَحْوَجُ مَا يَكُونُ إِلَى الْعَفْوِ

“Kedua, menakut-nakuti diri dengan siksa Allah bila ia tetap meluapkan amarahnya. Apakah ia aman dari murka Allah di hari kiamat? Padahal ia sangat membutuhkan pengampunan.”

الثَّالِثُ: أَنْ يُحَذِّرَ نَفْسَهُ عَاقِبَةَ الْعَدَاوَةِ وَالِانْتِقَامِ، وَتَشَمُّرَ الْعَدُوِّ لِمُقَابَلَتِهِ، وَالسَّعْيِ فِي هَدْمِ أَغْرَاضِهِ، وَالشَّمَاتَةِ بِمَصَائِبِهِ، وَهُوَ لَا يَخْلُو عَنِ الْمَصَائِبِ، فَيُخَوِّفُ نَفْسَهُ بِعَوَاقِبِ الْغَضَبِ فِي الدُّنْيَا إِنْ كَانَ لَا يَخَافُ مِنَ الْآخِرَةِ.

“Ketiga, menakut-nakuti dirinya tentang akibat dari permusuhan dan pembalasan, bagaimana sergapan musuh untuk membalasnya, menggagalkan rencana-rencananya serta bahagianya musuh saat ia tertimpa musibah, padahal seseorang tidak bisa lepas dari musibah-musibah. Takut-takutilah diri sendiri dengan dampak (buruk) amarah di dunia, bila ia belum bisa takut dari siksaan di akhirat kelak.”

الرَّابِعُ: أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي قُبْحِ صُورَتِهِ عِنْدَ الْغَضَبِ، بِأَنْ يَتَذَكَّرَ صُورَةَ غَيْرِهِ فِي حَالَةِ الْغَضَبِ، وَيَتَفَكَّرَ فِي قُبْحِ الْغَضَبِ فِي نَفْسِهِ، وَمُشَابَهَةِ صَاحِبِهِ لِلْكَلْبِ الضَّارِي وَالسَّبُعِ الْعَادِي، وَمُشَابَهَةِ الْحَلِيمِ الْهَادِي التَّارِكِ لِلْغَضَبِ لِلْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالْعُلَمَاءِ وَالْحُكَمَاءِ، وَيُخَيِّرَ نَفْسَهُ بَيْنَ أَنْ يَتَشَبَّهَ بِالْكِلَابِ وَالسِّبَاعِ وَأَرَاذِلِ النَّاسِ، وَبَيْنَ أَنْ يَتَشَبَّهَ بِالْعُلَمَاءِ وَالْأَنْبِيَاءِ فِي عَادَتِهِمْ؛ لِتَمِيلَ نَفْسُهُ إِلَى حُبِّ الِاقْتِدَاءِ بِهَؤُلَاءِ إِنْ كَانَ قَدْ بَقِيَ مَعَهُ مُسْكَةٌ مِنْ عَقْلٍ

“Keempat, berpikir bagaimana buruknya muka ketika marah. Bayangkan bagaimana raut muka orang lain saat marah, berpikirlah tentang buruknya marah di dalam dirinya, berpikirlah bahwa saat marah ia seperti anjing yang membahayakan dan binatang buas yang mengancam, berpikirlah untuk menyerupai orang ramah yang dapat menahan amarah layaknya para nabi, wali, ulama dan para bijak bestari. Berilah pilihan untuk dirimu, apakah lebih memilih serupa dengan anjing, binatang buas dan manusia-manusia hina; ataukah memilih untuk menyerupai ulama dan para nabi di dalam kebiasaan mereka? Agar hatinya condong untuk suka meniru perilaku mereka jika ia masih menyisakan satu tangkai dari akal sehat.”

الْخَامِسُ: أَنْ يَتَفَكَّرَ فِي السَّبَبِ الَّذِي يَدْعُوهُ إِلَى الِانْتِقَامِ وَيَمْنَعُهُ مِنْ كَظْمِ الْغَيْظِ، مِثْلَ قَوْلِ الشَّيْطَانِ لَهُ: إِنَّ هَذَا يُحْمَلُ مِنْكَ عَلَى الْعَجْزِ وَالذِّلَّةِ وَتَصِيرُ حَقِيرًا فِي أَعْيُنِ النَّاسِ فَيَقُولُ لِنَفْسِهِ: «مَا أَعْجَبَكِ! تَأْنَفِينَ مِنَ الِاحْتِمَالِ الْآنَ، وَلَا تَأْنَفِينَ مِنْ خِزْيِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلَا تَحْذَرِينَ مِنْ أَنْ تَصْغُرِي عِنْدَ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّبِيِّينَ» .

“Kelima, berpikir tentang sebab yang mendorongnya untuk membalas dan mencegahnya dari menahan amarah, semisal ketika dalam hati terdapat bujuk rayu setan; ‘Sesungguhnya orang ini membuatmu lemah dan rendah serta menjadikanmu hina di mata manusia’, maka jawablah dengan tegas di hatimu ‘Aku heran denganmu. Kamu sekarang mencemoohku karena menahan diri, sedangkan kamu tidak mencemooh dari kehinaan di hari kiamat. Kamu tidak khawatir dirimu akan hina di sisi Allah, para malaikat dan para Nabi’.”

فَمَهْمَا كَظَمَ الْغَيْظَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَكْظِمَهُ لِلَّهِ، وَذَلِكَ يُعَظِّمُهُ عِنْدَ الله

“Ketika ia menahan amarah, maka seyogiayanya menahan amarah karena Allah. Yang demikian itu bisa membuatnya agung di sisi Allah.”

 

b. Dengan Amal

Dari sisi amal cara menahan amarah adalah dengan berdzikir membaca ta’awudz, kemudian berusaha menenangkan diri. Carilah posisi yang lebih rileks. Bila dalam keadaan berdiri, maka bisa berganti posisi dengan duduk. Jika dalam keadaan duduk, bisa berganti posisi dengan tidur miring. Dianjurkan pula berwudhu dengan air dingin. Al-Imam al-Ghazali mengatakan dalam kitabnya:

وَأَمَّا الْعَمَلُ فَأَنْ تَقُولَ بِلِسَانِكَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَإِنْ كُنْتَ قَائِمًا فَاجْلِسْ، وَإِنْ كُنْتَ جَالِسًا فَاضْطَجِعْ، وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَتَوَضَّأَ بِالْمَاءِ الْبَارِدِ؛ فَإِنَّ الْغَضَبَ مِنَ النَّارِ، وَالنَّارُ لَا يُطْفِئُهَا إِلَّا الْمَاءُ.

“Adapun (mengatasi amarah dengan) amal, katakanlah dengan lisanmu, A’ûdzu billâhi minasy syaithânir rajîm (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Bila engkau berdiri, duduklah. Bila engkau duduk, tidurlah miring. Disunahkan berwudhu dengan air yang dingin, sesungguhnya kemarahan adalah dari api, sedangkan api tidaklah bisa dipadamkan kecuali dengan air.”

Sedangkan cara untuk mengontrol emosi agar tidak mudah marah, ada beberapa trik yang bisa dilakukan, yaitu dengan cara Pertama, membaca ta’awudz. Hal ini sebagaimana dalam hadits Nabi yang diceritakan oleh Sulaiman Shurad dalam kitab hadit shahih bukhari

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلَانِ يَسْتَبَّانِ فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ فَقَالُوا لَهُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ فَقَالَ وَهَلْ بِي جُنُونٌ

“Dari Sulaiman bin Shurad berkata; “Aku sedang duduk bersana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ada dua orangyang saling mencaci. Satu diantaranya wajahnya memerah dan urat lehernya menegang. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku mengetahui satu kalimat yang bila diucapkan akan hilang apa yang sedang dialaminya. Seandainya dia mengatakan a’uudzu billahi minasy syaithaan”, (aku berlindung kepada Allah dari setan) “. Lalu orang-orang mengatakan kepada orang itu; “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “Berlindungkah kamu kepada Allah dari setan”. Orang itu berkata: “Apakah aku sudah gila?”. (HR. Bukhari – 3040) :

 

Kedua, berwudhu. Berdasarkan hadit Rasulullah saw. yang diriwayat oleh Ahmad sebagai berikut,

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ خَالِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو وَائِلٍ صَنْعَانِيٌّ مُرَادِيٌّ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ عُرْوَةَ بْنِ مُحَمَّدٍ قَالَ إِذْ أُدْخِلَ عَلَيْهِ رَجُلٌ فَكَلَّمَهُ بِكَلَامٍ أَغْضَبَهُ قَالَ فَلَمَّا أَنْ غَضِبَ قَامَ ثُمَّ عَادَ إِلَيْنَا وَقَدْ تَوَضَّأَ فَقَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ جَدِّي عَطِيَّةَ وَقَدْ كَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Abu Wa`il Shan’ani Muradi ia berkata, “Kami pernah duduk bersama ‘Urwah bin Muhammad, tiba-tiba dihadapkanlah seorang laki-laki kepadanya. Laki-laki itu kemudian berbicara padanya dengan ungkapan yang membuatnya marah.” Abu Wa`il berkata, “Maka ketika Urwah akan marah, ia pun berdiri dan kembali kepada kami dalam keadaan telah berwudlu. Kemudian ia berkata, Bapakku telah menceritakan dari kakekku, Athiyah -salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kemarahan itu datangnya dari setan dan setan tercipta dari api, sedangkan api hanya dapat dipadamkan oleh air, maka jika salah seorang di antara kalian marah hendaklah ia berwudlu.” (HR. Ahmad – 17302) :

 

Ketiga, Duduk. Dalam sebuah hadits, yang diriwayat oleh Ahmad, Abu Dawud Rasul bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِم فَلْيَجْلِسُ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ

 “Apabila di antara kalian ada yang marah dalam keadaan berdiri, duduklah!. Jika marah tidak bisa hilang, Bertidur miringlah!.” (HR. Ahmad, Abu Dawud)

 

Keempat, Diam. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayat Imam Ahmad, Rasulullah saw bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ عَلِّمُوا وَيَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Ajarilah (orang lain) dan mudahkanlah serta jangan mempersulit, jika salah seorang di antara kalian marah maka hendaklah dia diam.” (HR. Ahmad – 2029) :

 

Kelima, bersujud yang berarti shalat sunnah minimal dua rakaat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi

أَلَا وَإِنَّ الْغَضَبَ جَمْرَةٌ فِي قَلْبِ ابْنِ آدَمَ أَمَا رَأَيْتُمْ إِلَى حُمْرَةِ عَيْنَيْهِ وَانْتِفَاخِ أَوْدَاجِهِ.

“Ingatlah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati anak Adam. Tidakkah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya?

فَمَنْ أَحَسُّ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ فَلْيَلْصَقْ بِالْأَرْضِ

Barangsiapa yang mendapati hal tersebut, hendaklah ia menempelkan pipinya dengantanah (sujud).”(HR. Tirmidzi)

Keenam, Memperbanyak Mengingat Allah (Dzikirullah) Sesungguhnya jika hati manusia senantiasa mengingat Allah SWT maka hati akan terang sehingga otak dan akal tidak akan mudah dikuasai oleh amarah. Hal ini didasarkan pada firman Allah swt pada al-qur’an surat Ar-Ra’d/13 : 28

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

 (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.

Semoga kita dituntun oleh Allah sehingga kita bisa menahan amarah, tidak suka marah dan menjadi orang yang penyabar. Harapan kita, kelak, dengan menahan amarah ini, semoga kita akan meninggalkan dunia ini dengan husnul khatimah. Amin.

Penulis:
Toto Heriyanto, S.Pd.I., M.Ag.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas YARSI-Jakarta

Tuliskan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Keranjang belanja

Tidak ada produk di keranjang.

Kembali ke toko

Nun Media Berkah

Selamat datang di Toko Kami. Kami siap membantu semua kebutuhan Anda

Selamat datang, ada yang bisa Saya bantu