Sang Pebisnis yang Diberkahi

Izinkan saya menelusuri kisah seorang sahabat Nabi SAW, yang namanya mungkin tidak sering kita dengar, tapi langkahnya, pikirannya, dan kejujurannya, telah menjadi cahaya bagi siapa pun yang ingin sukses dengan keberkahan. Ia Bernama Urwah al-Bariqi ra. Inilah trik yang dilakukan Urwah al-Bariqi ra. menjadi sukses dalam berdagang.
Menjaga Amanah Rasulullah SAW
Suatu hari… Rasulullah SAW memanggil seorang sahabatnya, namanya Urwah al-Bariqi ra. Beliau menyerahkan satu dinar emas, dan bersabda lembut: “Belikanlah untukku seekor kambing dengan uang ini.” (HR. al-Bukhārī, no. 3643; Musnad Aḥmad, 4/376)
Satu dinar….
Nilainya tidak besar, tidak pula kecil. Tapi bagi Urwah, itu bukan sekadar uang. Itu amanah dari Rasulullah SAW.
Kecerdasan dan Kejujuran
Urwah pun pergi ke pasar. Ia tidak terburu-buru membeli kambing pertama yang ia lihat.
Ia mengamati, menawar, menghitung, dan berpikir.
Hingga akhirnya…
dengan kecerdasannya, ia bisa membeli dua ekor kambing dengan satu dinar! Lalu ia menjual salah satunya dan mendapat kembali satu dinar sebagai keuntungan.
Bayangkan…
dari satu dinar Rasulullah, ia kembali membawa satu dinar plus seekor kambing.
Doa Rasulullah SAW
Saat Urwah menyerahkan hasilnya kepada Rasulullah SAW, beliau tersenyum. Senyum penuh kebanggaan, karena amanah itu dijalankan dengan kecerdasan dan kejujuran. Lalu Nabi SAW berdoa:
“اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُ فِي صَفْقَةِ يَمِينِهِ.”
“Ya Allah, berkahilah setiap transaksi yang dilakukan dengan tangan kanannya.”
(HR. al-Bukhārī, no. 3643)
Dan sejak saat itu…
Urwah al-Bariqi tidak pernah rugi dalam berdagang.
Setiap usaha, selalu berhasil.
Setiap jual-beli, selalu menguntungkan.
Setiap langkah bisnisnya, selalu diberkahi Allah.
Lihatlah bagaimana satu dinar berubah menjadi keberkahan hidup. Bukan karena kecerdasan semata, tapi karena niat yang lurus dan kejujuran yang tulus. Urwah tak mengambil keuntungan untuk dirinya, tapi ia kembalikan hasilnya kepada Rasulullah SAW. Ia ingin keberkahan, bukan sekadar keuntungan.
Diantara kita mungkin mempelajari teori pasar, supply-demand, dan profit margin. Tapi kisah Urwah mengajarkan satu hal yang lebih besar dari semua itu “Kejujuran dan keberkahan adalah modal utama dalam bisnis.”
Hari ini, mungkin kita punya modal bukan satu dinar, tapi ilmu, teknologi, jaringan, dan peluang besar.
Namun…
semua itu tak akan membawa hasil jika tak ada keberkahan.
Maka jadilah seperti Urwah…
yang memulai dari satu dinar, tapi dengan niat sebesar langit.
Yang berbisnis bukan untuk menjadi kaya,
tapi agar kekayaan menjadi jalan menuju ridha Allah.
Ingatlah …
Keberkahan itu bukan pada banyaknya angka di rekening,
tapi pada ketenangan hati ketika memberi manfaat.
Mari kita niatkan,
menjadi pengusaha bukan hanya sukses di dunia,
tapi juga sukses di akhirat.
Menjadi entrepreneur muslim yang membawa cahaya,
bukan hanya bagi diri sendiri, tapi untuk umat dan bangsa.
Penulis
Toto Heriyanto, S.Pd.I., M.Ag.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas YARSI-Jakarta
Referensi
Kitab Ṣaḥiḥ al-Bukhari
Musnad Imam Aḥmad
Al Isabah fi tamyiz al Sahabah – Imam Ibn Hajar Asqalani




Tuliskan Komentar