Beranda » Naskah Khutbah » Rahasia Do’a yang Sulit Ditolak

Rahasia Do’a yang Sulit Ditolak

Manusia tidak pernah sepenuhnya terbebas dari kesalahan. Ada dosa yang dilakukan karena ketidaktahuan, kelemahan iman, kelalaian, maupun ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu. Meskipun demikian, Islam tidak mengajarkan manusia untuk tenggelam dalam rasa bersalah hingga kehilangan harapan. Seorang Muslim justru diperintahkan untuk kembali kepada Allah melalui Do’a, taubat, istighfar, dan perbaikan amal.

 

Harapan kepada rahmat Allah dalam ajaran Islam dikenal dengan istilah rajā’. Raja’ bukan sekadar sikap optimistis, melainkan keadaan batin yang mendorong seseorang untuk mendekat kepada Allah, meninggalkan dosa, dan memperbanyak amal kebajikan. Harapan yang benar selalu disertai kesadaran akan kekurangan diri serta kesungguhan dalam menempuh jalan ketaatan.

 

Prinsip tersebut dijelaskan secara kuat dalam hadis qudsi yang dicantumkan Imam al-Nawawi dalam Riyāḍ al-Ṣāliḥīn, pada Bab. 52 tentang Keutamaan Raja’ atau Bāb Faḍl al-Rajā’, hadis bagian ke-3 sebagai berikut,

وعن أنس رضي الله عنه قال: سمعتُ رسولَ الله ﷺ يقول : قال الله تعالىٰ: يَا ابْنَ آدَمَ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَني وَرَجَوْتَني غَفَرْتُ لَكَ عَلىٰ مَا كَانَ مِنكَ وَلا أُبَالي، يَا ابْنَ آدَمَ، لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السماءِ، ثم اسْتَغْفَرْتَني غَفَرتُ لَكَ وَلا أُبالي، يَا ابْنَ آدَمَ، إنَّكَ لَوْ أَتَيْتَني بِقُرابِ الأرضِ خطايا، ثُمَّ لَقَيْتَني لا تُشْرِكُ بي شَيْئاً لأتيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً . رواه الترمذي. وقال: حديث حسن

Dari Anas ra., ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdo’a kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu atas apa pun dosa yang ada padamu, dan Aku tidak peduli (amalan apa saja yang ada padamu. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai setinggi awan di langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan hampir sepenuh bumi pula.” Hadis riwayat At-Tirmidzi, dan beliau berkata: hadis hasan.

 

Ungkapan lā ubālī atau “Aku tidak mempersoalkannya” tidak berarti bahwa Allah merestui kemaksiatan atau memandang dosa sebagai sesuatu yang ringan. Maksudnya, sebesar apa pun dosa seorang hamba, dosa tersebut tidak akan mengurangi kekuasaan dan keluasan ampunan Allah apabila hamba itu benar-benar kembali kepada-Nya. Banyaknya dosa tidak akan membuat Allah kesulitan memberikan pengampunan.

 

Tiga Jalan Menuju Ampunan

Hadis tersebut memperlihatkan, setidaknya ada tiga jalan utama yang dapat mengantarkan seorang hamba kepada ampunan Allah, yaitu Do’a yang disertai harapan, istighfar yang tulus, dan tauhid yang bersih.

Pertama, Allah menghubungkan ampunan dengan do’a dan harapan melalui ungkapan mā da‘awtanī wa rajawtanī. Do’a menunjukkan bahwa seorang hamba menyadari kelemahan dirinya dan mengakui kekuasaan Allah. Sementara itu, raja’ menunjukkan keyakinan bahwa rahmat Allah lebih luas daripada dosa dan kesalahan manusia.

Do’a bukan hanya sarana untuk memperoleh kebutuhan duniawi. Do’a merupakan bentuk penghambaan karena di dalamnya terdapat pengakuan terhadap rububiyah, kekuasaan, pengetahuan, dan kasih sayang Allah. Rasulullah ﷺ bahkan menegaskan bahwa do’a merupakan inti dari ibadah.

Kedua, hadis tersebut menekankan pentingnya istighfar. Allah menggambarkan dosa manusia yang mencapai ‘anān al-samā’, yakni awan atau bagian langit yang tampak ketika seseorang menengadahkan kepalanya. Perumpamaan ini menunjukkan jumlah dosa yang sangat banyak. Namun, sebanyak apa pun dosa tersebut, jalan istighfar tetap terbuka bagi orang yang kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan dan kesungguhan.

Istighfar bukan sekadar mengucapkan astaghfirullāh secara lisan. Istighfar yang sempurna menyertakan pengakuan terhadap kesalahan, penyesalan, penghentian perbuatan dosa, serta tekad untuk tidak mengulanginya. Apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak manusia, taubat juga menuntut pengembalian hak atau permohonan maaf kepada pihak yang dirugikan.

Ketiga, hadis itu menempatkan tauhid sebagai fondasi terbesar bagi keselamatan manusia. Allah menjanjikan ampunan hampir sepenuh bumi kepada orang yang menghadap-Nya tanpa membawa kemusyrikan. Hal ini menunjukkan bahwa pengesaan Allah merupakan dasar seluruh ibadah dan salah satu sebab terbesar datangnya ampunan.

Tauhid bukan hanya pengakuan lisan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Tauhid harus tercermin dalam orientasi hidup, ketundukan, do’a, ibadah, rasa takut, harapan, dan ketergantungan hanya kepada Allah. Semakin bersih tauhid seseorang, semakin kuat pula hubungannya dengan Allah.

 

Raja’ Bukan Alasan untuk Meremehkan Dosa

Besarnya ampunan Allah tidak boleh dijadikan alasan untuk terus melakukan kemaksiatan. Harapan yang tidak disertai amal dan taubat dapat berubah menjadi angan-angan kosong. Raja’ yang benar justru membuat seseorang merasa malu kepada Allah, memperbanyak istighfar, memperbaiki ibadah, dan berhati-hati agar tidak kembali kepada dosa.

Seseorang tidak dapat berkata bahwa ia berharap kepada Allah, tetapi dengan sengaja terus mempertahankan kemaksiatan tanpa keinginan untuk berubah. Harapan kepada rahmat Allah harus berjalan bersama rasa takut terhadap akibat dosa. Keseimbangan antara harapan dan rasa takut menjaga seorang Muslim agar tidak berputus asa, tetapi juga tidak merasa aman dari akibat kemaksiatan.

Keluasan ampunan dari Allah tidak serta merta membolehkan perbuatan dosa, lalai dalam ibadah, berbicara sering menyakitkan. Akan tetapi keluasan ampunan Allah  memberikan kekuatan spiritual agar orang yang pernah berbuat salah tidak menyerah dalam perjalanan memperbaiki diri. Selama kehidupan masih diberikan, kesempatan untuk berdo’a, bertaubat, dan memperbaiki amal masih terbuka.

 

Menghadirkan Hati dalam Berdo’a

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ sebagai berikut.

وَإِذَا جَمَعَ مَعَ الدُّعَاءِ حُضُورَ الْقَلْبِ وَجَمْعِيَّتَهُ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى الْمَطْلُوبِ، وَصَادَفَ وَقْتًا مِنْ أَوْقَاتِ الْإِجَابَةِ السِّتَّةِ، وَهِيَ: الثُّلُثُ الْأَخِيرُ مِنَ اللَّيْلِ، وَعِنْدَ الْأَذَانِ، وَبَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ، وَأَدْبَارُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ، وَعِنْدَ صُعُودِ الْإِمَامِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ حَتَّى تُقْضَى الصَّلَاةُ مِنْ ذَلِكَ الْيَوْمِ، وَآخِرُ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ.

Doa akan dikabulkan jika seseorang menggabungkan: (1) hadirnya hati, konsentrasi secara penuh terhadap apa yang diminta, (2) bertepatan dengan salah satu waktu terkabulnya doa yang enam berikut: (a) sepertiga malam terakhir, (b) saat azan, (c) antara azan dan iqamah, (d) setiap akhir shalat lima waktu, (e) ketika imam naik mimbar pada hari Jumat sampai shalat Jumat selesai dilaksanakan pada hari tersebut, (f) akhir waktu pada hari Jumat setelah Ashar.

 

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan sejumlah unsur yang menguatkan do’a. Ia menempatkan kehadiran hati dan pemusatan perhatian sebagai unsur pertama. Menurutnya, orang yang berdo’a hendaknya menghadapkan seluruh kesadarannya kepada Allah dan memahami apa yang sedang dimohonkan.

Kehadiran hati membedakan do’a yang hidup dari do’a yang hanya menjadi kebiasaan lisan. Seseorang mungkin mengucapkan kalimat do’a yang benar, tetapi pikirannya tidak menyadari makna yang diucapkan. Do’a seperti itu belum mencerminkan ketundukan dan kebutuhan yang mendalam kepada Allah.

Khusyuk dalam berdo’a berarti merasakan kebesaran Allah sekaligus menyadari kelemahan diri. Di dalamnya terdapat kerendahan hati, ketundukan, kelembutan, rasa butuh, serta pengakuan bahwa hanya Allah yang mampu memberikan pertolongan. Kondisi batin inilah yang menjadikan do’a bukan sekadar permintaan, melainkan perjumpaan spiritual antara seorang hamba dan Tuhannya.

 

Memanfaatkan Waktu-Waktu Utama

Ibnul Qayyim juga menyebutkan enam waktu yang memiliki keutamaan untuk berdo’a, yaitu sepertiga malam terakhir, saat azan dikumandangkan, antara azan dan iqamah, pada bagian akhir salat wajib, ketika imam naik mimbar pada hari Jumat sampai selesainya salat Jumat, serta waktu terakhir setelah salat Asar pada hari Jumat.

Pemanfaatan waktu-waktu tersebut merupakan bagian dari ikhtiar seorang hamba. Meskipun demikian, do’a tidak dibatasi hanya pada waktu tertentu. Allah dapat diseru kapan saja, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, sehat maupun sakit, tenang maupun gelisah.

Keutamaan waktu tidak boleh dipahami secara mekanis seolah-olah do’a pasti langsung menghasilkan sesuatu yang diminta. Waktu utama merupakan sebab yang dianjurkan, sedangkan keputusan mengenai bentuk, cara, dan waktu pengabulan sepenuhnya berada dalam hikmah Allah.

 

Memenuhi Adab Berdo’a

Selain kehadiran hati dan pemilihan waktu, Ibnul Qayyim menjelaskan beberapa adab yang dapat menyempurnakan do’a. Orang yang berdo’a dianjurkan menghadap kiblat, berada dalam keadaan suci, mengangkat kedua tangan, serta memulai do’a dengan memuji dan menyanjung Allah.

Setelah memuji Allah, ia dianjurkan membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sebelum menyampaikan hajat, seseorang juga hendaknya mendahuluinya dengan taubat dan istighfar. Susunan ini mengajarkan bahwa do’a bukan semata-mata daftar keinginan, melainkan pengakuan terhadap keagungan Allah dan kekurangan diri sendiri.

Selanjutnya, seorang hamba dianjurkan bersungguh-sungguh, mengulang permohonannya, serta berdo’a dengan memadukan rasa harap dan takut. Ia dapat bertawasul dengan nama dan sifat Allah yang sesuai dengan permohonannya. Ketika memohon ampunan, misalnya, ia dapat menyebut Allah dengan nama Al-Ghafūr atau Al-Ghaffār. Ketika memohon rezeki, ia dapat menyebut-Nya dengan nama Al-Razzāq.

Ibnul Qayyim juga menyebutkan anjuran mendahului do’a dengan sedekah. Sedekah menjadi bentuk amal nyata yang mencerminkan ketulusan, kepedulian, dan kesediaan berkorban karena Allah. Rangkaian adab tersebut, menurutnya, merupakan sebab yang sangat kuat bagi diterimanya do’a, terutama apabila do’a yang dibaca bersumber dari Rasulullah SAW atau mengandung nama-nama Allah yang agung.

Meskipun demikian, adab-adab tersebut tidak seluruhnya berkedudukan sebagai syarat mutlak. Seseorang yang sedang sakit, terdesak, tidak menghadap kiblat, atau tidak berada dalam keadaan berwudu tetap diperbolehkan berdo’a. Allah mendengar do’a hamba-Nya dalam setiap keadaan. Adab-adab tersebut berfungsi menyempurnakan kualitas penghambaan dan membantu hati agar lebih khusyuk.

 

Tidak Tergesa-gesa Menilai Do’a

Salah satu tantangan terbesar dalam berdo’a ialah keinginan untuk segera melihat hasil. Ketika permintaan belum terwujud, sebagian orang mulai merasa bahwa do’anya tidak didengar. Sikap seperti ini dapat melemahkan harapan dan membuat seseorang berhenti berdo’a.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa do’a seorang hamba akan terus mendapatkan jawaban selama ia tidak tergesa-gesa dengan mengatakan bahwa dirinya telah berdo’a, tetapi do’anya belum dikabulkan. Larangan tergesa-gesa mengajarkan bahwa do’a memerlukan kesabaran, ketekunan, dan penyerahan diri kepada kebijaksanaan Allah.

 

Do’a tidak boleh dinilai hanya berdasarkan cepat atau lambatnya permintaan menjadi kenyataan. Do’a pertama-tama merupakan ibadah, pengakuan atas kelemahan manusia, serta bentuk ketergantungan kepada Allah. Karena itu, seorang Muslim tetap berdo’a bukan hanya ketika memerlukan sesuatu, tetapi karena berdo’a merupakan bagian dari hubungan penghambaan kepada-Nya.

 

Harapan yang Melahirkan Perubahan

Pesan utama hadis dalam Bab Keutamaan Raja’ adalah larangan berputus asa dari rahmat Allah. Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi ampunan-Nya selama seorang hamba kembali dengan do’a, harapan, istighfar, taubat, dan tauhid. Namun, harapan tersebut harus melahirkan perubahan nyata.

Orang yang berharap mendapatkan ampunan hendaknya berusaha meninggalkan dosa. Orang yang memohon kelapangan rezeki hendaknya tetap bekerja dengan cara yang halal. Orang yang meminta kesehatan hendaknya menjaga tubuh dan menjalani pengobatan. Orang yang memohon ilmu hendaknya belajar. Dengan demikian, do’a dan ikhtiar tidak saling bertentangan, tetapi saling menyempurnakan.

Raja’ memberikan energi spiritual agar manusia tidak berhenti memperbaiki diri. Ketika seseorang jatuh dalam dosa, raja’ mendorongnya untuk bangkit. Ketika hidup terasa berat, raja’ membuatnya tetap berdo’a. Ketika hasil belum terlihat, raja’ menjaganya agar tidak tergesa-gesa menuduh bahwa do’anya tidak diterima.

Pada akhirnya, keluasan rahmat Allah bukan alasan untuk meremehkan dosa, melainkan alasan untuk segera kembali kepada-Nya. Seorang hamba tidak boleh membanggakan amalnya, tetapi juga tidak boleh merasa bahwa dirinya terlalu hina untuk diampuni. Di antara rasa takut dan harapan itulah seorang Muslim menjalani kehidupan, terus berdo’a, memperbanyak istighfar, menjaga tauhid, dan memperbaiki amal dan selalu berbuat baik terhadap manusia hingga akhir hayatnya.

 

Penulis:
Dr. Toto Heriyanto, S.Pd.I., M.Ag.

(Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas YARSI-Jakarta)

 

Referensi

Al-Bukhārī, M. ibn I. (2001). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (M. Z. ibn N. al-Nāṣir, Ed.; 1st ed.). Dār Ṭawq al-Najāh.

Al-Nawawī, Y. ibn S. (2007). Riyāḍ al-ṣāliḥīn min kalām sayyid al-mursalīn (M. Y. al-Faḥl, Ed.; 1st ed.). Dār Ibn Kathīr.

Al-Tirmidhī, M. ibn ‘Īsā. (1996). Al-Jāmi‘ al-kabīr: Sunan al-Tirmidhī (B. ‘A. Ma‘rūf, Ed.; 1st ed., Vols. 1–6). Dār al-Gharb al-Islāmī.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah, M. ibn A. B. (2008). Al-Dā’ wa-al-dawā’: Al-Jawāb al-kāfī li-man sa’ala ‘an al-dawā’ al-shāfī (M. A. al-Iṣlāḥī, Ed.; Z. ibn A. al-Nushayrī, Takhrij hadis; 1st ed.). Dār ‘Ālam al-Fawā’id.

Ibn Rajab al-Ḥanbalī, ‘A. al-R. ibn A. (1997). Jāmi‘ al-‘ulūm wa-al-ḥikam fī sharḥ khamsīna ḥadīthan min jawāmi‘ al-kalim (S. al-Arna’ūṭ & I. Bājis, Eds.; 7th ed.). Mu’assasat al-Risālah.

 https://youtube.com/live/ZuLgsXcsymY

Tuliskan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Keranjang belanja

Tidak ada produk di keranjang.

Kembali ke toko

Nun Media Berkah

Selamat datang di Toko Kami. Kami siap membantu semua kebutuhan Anda

Selamat datang, ada yang bisa Saya bantu